Sabtu, 15 Januari 2011

Asuhan Keperawatan Kanker Ovarium; Ca Ovari

ASUHAN KEPERAWATAN CA OVARI


Ovarium mempunyai fungsi yang sangat krusial pada reproduksi dan menstruasi. Gangguan pada ovarium dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan, perkembangan dan kematangan sel telur. Gangguan yang paling sering terjadi adalah kista ovarium, sindrom ovarium polikistik, dan kanker ovarium

Keganasan ovarium merupakan 6 kasus kanker terbanyak dan merupakan penyebab kematian oleh karena keganasan ginekologi. Terdapat variasi yang luas insidensi keganasan ovarium, rerata tertinggi terdapat di Negara Skandinavia (14,5-15,3 per 100.000 populasi).5 Di Amerika insidensi keganasan ovarium semua ras adalah 12,5 kasus per 100.000 populasi pada tahun 1988 sampai 1991.6

Untuk mencapai prognosis yang baik bagi penderita, tindakan pembedahan pengangkatan massa tumor yang adekuat sangatlah penting. Oleh karena itu diagnosis banding yang akurat antara tumor ovarium yang jinak atau ganas sangat penting, dalam manajemen intraoperasi maupun pasca operasi pada setiap kasus.8




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Ca ovarium adalah tumor ganas pada ovarium sesuai dengan klasifikasi histopatologis, karsinoma ovari dapat berupa primer berasal dari epithel ovarium, germ cell, stroma dan sekunder berasal dari metastase Ca dibagian tubuh yang lain.
(Arif Mansjoer, dkk, 1999).
Penyakit yang membuat frustasi bagi pasien dan pemberi perawatan karena awitanya tersembunyi dan tidak adanya gejala peringatan atau penyebab mengapa penyakit ini telah mencapai tahap lanjut ketika didiagnosa.
Penyakit yang merupakan penyebab utama kematian dari kanker reproduksi.
(Brunner & Suddarth : 1559, 2001).
B. ETIOLOGI
Penyebab Ca ovari belum diketahui pasti, adapun :
Faktor resiko
Umur > 40 tahun
Riwayat keluarga dengan Ca ovari
Nuliparity (wanita yang belum pernah melahirkan)
Riwayat infertil
Riwayat perdarahan menstruasi yang banyak dan disminore.
Obesitas terutama yang intake tinggi lemak hewani.
Penggunaan obat stimulasi ovulasi untuk infertile.
Kebiasaan menggunakan bedak pada vagina.
(Arief Mansjoer, dkk, 1999)
C. PATOFISIOLOGI
Biasanya Ca ovari berbentuk tumor epitel. Kadang-kadang adeno carsinoma. Ca ovari cenderung tumbuh dan menjalar tidak diketahui (manifestasi) hingga menyebabkan tekanan dekat organ atau distensi abdomen. Ketika tekanan dihubungkan dengan muncul manifestasi akhir, adanya malignant biasanya menjalar ke ovarium yang lain dan struktur lain. Ca ovari mungkin menyerang permukaan kandung kencing, omentum, hati dan organ lain. Ketika di pembuluh darah Pelvic menjadi berbelit-belit (ruwet) terjadi metostase jauh. Biasanya rute perjalanan termasuk limfa, darah, perluasan lokal dan penempatan peritoneal.
(Price, A. Sylvia : 384, 1994).
Tahap-tahap Ca ovarium :
1. Pertumbuhan terbatas pada ovarium.
2. Pertumbuhan mencakup satu atau kedua ovarium dengan perluasan pelvic.
3. Pertumbuhan mencakup satu atau kedua ovarium dengan metastase di luar pelvic / nodus inguinal atau retroperitoneal positif.
4. Pertumbuhan mencakup satu atau kedua ovarium dengan metastase jauh.
(Brunner & Suddarth Vol. 2 : 2001).
Stadium Ca ovari
Stadium I : Tumor terbatas pada ovarium.
I A = Tumor terbatas pada satu ovarium, kapsul utuh, tidak ada jaringan tumor di permukaan ovarium.
I B = Tumor terbatas pada kedua ovarium, kapsul utuh, tidak ada jaringan tumor di kedua permukaan ovarium.
I C = Tumor terbatas pada satu / kedua ovarium, dengan keadaan kapsul ruptur, atau ada jaringan tumor di permukaan ovarium.
Stadium II : Tumor pada satu atau kedua ovarium dengan penyekaran dalam rongga panggul.
II A = Perluasan / implantasi pada uterus dan atau pada tuba.
II B = Perluasan pada jaringan rongga panggul lainnya.
II C = Perluasan dalam rongga panggul dengan ditemukannya sel ganas pada analisis cairan ascites / dialysis peritoneal.
Stadium III : Tumor pada satu atau kedua ovarium dengan metastase peritoneal yang dikonfirmasi secara mikroskopik di luar rongga panggul dan atau kelenjar getah bening regional.
III A = Metastase mikroskopik pada jaringan peritoneal dalam rongga panggul.
III B = Metastase mikroskopik pada jaringan peritoneal dalam rongga panggul dengan diameter
III C = Metastase mikroskopil pada jaringan peritoneal dalam rongga panggul kurang, dengan diameter terbesar > 20 mm dan atau metastase kelenjar getah bening regional.
Stadium IV : Pertumbuhan melibatkan satu atau kedua ovarium dengan penyebaran jauh, metastase ke parenkim hati.
(www.geocities.com)
Deteksi dini Ca ovarium dilakukan dengan :
1. PAP Smear
2. Pemeriksan pelvic, retro vaginal
3. Kemungkinan massa pelvic adalah ca ovarium, jika :
Ukuran diameter
Ukuran diameter antara 5 – 10 cm, kemungkinan 19%
Ukuran diameter > 10 cm, kemungkinan 97%.
4. Pemeriksaan USG (transvagina)
5. Color Doppler duplex / triplex
6. CT Scan
7. Tumor marker (pertanda tumor) lewat pemeriksaan darah.

Bentuk lesi dicurigai sebagai keadaan pra kanker yang terdapat di permukaan ovarium yang menderita kanker, belum dapat dibuktikan (plaxale). Sehingga metode screening yang efektif pun belum dapat ditemukan. Lesi ini mungkin suatu bentuk pra kanker mungkin juga merupakan kelainan lanjut akibat proses kankernya. Jika dapat dibuktikan bahwa lesi tersebut mendahului kanker dan kemudian berkembang menjadi invasive, maka hal itu dapat dijadikan dasar untuk deteksi dini kanker ovarium.
(www.geocities.com)

D. MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis pada tumor ovarium :
Haid tidak teratur
Ketegangan menstruasi yang terus meningkat
Rasa tidak nyaman pada abdomen
Darah menstruasi yang banyak (menoralgia) dan nyeri tekan pada payudara.
Menopause dini
Dyspopsia
Tekanan pada pelvis
Sering berkemih
Malnutrisi
Efusi pigura
Konstripasi
Ascites dengan dispnea.
(Mijakom, dkk 1995).
E. PENATALAKSANAAN
1. Operasi
2. Kemoterapi = 6 – 24 bulan
3. Biopsi multipel : jika masih ada tumor
a. Pencegahan primer
Beritahukan klien bahwa Ca ovari mungkin dapat dicegah oleh sesuatu yang mengganggu siklus ovulatory konstan seperti :
Kehamilan full term > 1 kali
Penggunaan kontrasepsi oral
Brest – feeding
b. Pencegahan
Dorong wanita untuk melakukan pemeriksaan pelvic secara rutin dengan pemeriksaan bimanual rectovagina.
Berikan antigen CA-125 pada wanita dengan resiko tinggi.
Lakukan transvaginal ultrasound yang dikombinasikan dengan pemeriksaan pelvic bimanual, dan pemeriksaan Doppler untuk lesi yang dicurigai.
(Purnawan Junaedi, 1997)
F. PENGKAJIAN FOKUS
1. Identitas
a. Usia : biasa terjadi usia > 40 tahun.
b. Jenis kelamin : perempuan
c. Pekerjaan
2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan utama
b. Riwayat kesehatan dahulu
Kaji apakah ada riwayat hipertensi, kanker, penyakit ginjal, DM.
c. Riwayat penyakit sekarang
Kaji apakah
d. Riwayat kesehatan keluarga
Kaji apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit DM, hipertensi, ginjal, kanker (baik kanker ovarium maupun kanker yang lain).
3. Pemeriksaan Fisik
a. Aktifitas
Kelemahan
Perubahan pada pola istirahat dan jam kebiasaan tidur pada malam hari, adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tidur, misal : nyeri, berkeringat.
b. Sirkulasi
Palpasi
Perubahan TD
c. Eliminasi
Perubahan pada pola defekasi : konstipasi
Perubahan eliminasi urine : sering berkemih
Distensi abdomen
d. Makanan
Anoreksia, mual, muntah
Perubahan kelembaban atau turgor kulit.
Penurunan BB.
e. Neurosensori
Pusing, sincope.
f. Nyeri
Derajat nyeri bervariasi dari nyeri ringan sampai berat dihubungkan dengan proses penyakit.
g. Pernafasan
Dispnea
Efusi pleura
h. Seksualitas
Ketidakmampuan melakukan hubungan seksual karena proses penyakit.
i. Interaksi sosial
Ketidakadekuatan sistem pendukung.
Riwayat perkawinan (berkenaan dengan kepuasan di rumah, dukungan).
4. Pemeriksaan TTV
Normalnya TD = 120/80 mmHg
N = 80 – 100 x/mnt
RR = 24 x/mnt
S = 365 – 375 0C
5. Pemeriksaan Diagnostik
a. Pap Smear
Displasia seluler menunjukkan adanya kanker.
b. Ultra sound / CT Scan
Membantu mengidentifikasi ukuran / lokasi masa.
c. Laparoskopi
Dilakukan untuk melihat tumor, perdarahan laparotomi mungkin dilakukan untuk membuat tahapan kanker atau mengkaji efek kemotrapi.
d. Biopsi (endometrial / servikal)
Memungkinkan pemeriksaan histopatologis sel untuk menentukan adanya / lokasi kanker.
e. Hitung darah lengkap
Penurunan Hb dapat menunjukkan anemia kronis, sementara penurunan Hb menduga kehilangan darah aktif peningkatan leukosit dapat mengidentifikasi proses inflamasi / infeksi.
f. Parasintesis cairan asites.
g. Ultrasanografi.
h. Pemeriksaan rontgen.

Prinsip Menghadapi Tumor Ovarium
a. Operasi untuk mengambil tumor :
Dapat menjadi besar.
Kemungkinan degenerasi panas.
b. Saat operasi dapat didahului frozen section, untuk kepastian ganas dan tindakan operasi lebih lanjut.
c. Hasil operasi harus dilakukan pemeriksaan PA, sehingga kepastian klasifikasi tumor dapat ditetapkan untuk menentukan terapi.
d. Operasi tumor ganas diharapkan :
Pengambilan sebanyak mungkin jaringan tumor sampai dalam batas aman, diameter sekitar 2 cm.
e. Setelah mendapatkan radiasi atau kemoterapi dapat dilakukan operasi kedua, untuk mengambil sebanyak mungkin jaringan tumor.



G. PATHWAYS


H. INTERVENSI
1. Gangguan rasa nyaman nyeri b/d adanya massa yang menekan sel syaraf nyeri.
Tujuan : Nyeri dapat berkurang bahkan hilang
KH : TTV dalam batas normal
Ekspresi wajah tenang / rileks.
Intervensi :
a. Kaji skala nyeri dengan pendekatan P, Q, R, ST.
R = mengetahui status nyeri.
b. Ajarkan tehnik relaksasi nafas dalam.
R = membantu mengurangi nyeri.
c. Berikan posisi yang nyaman
R = membantu mengurangi nyeri dan pasien bisa rileks.
d. Berikan obat analgetik sesuai indikasi
R = mengurangi / menghilangkan rasa nyeri.
2. Gangguan keseimbangan cairan lebih dari kebutuhan tubuh b/d adanya oedema pada tubuh.
Tujuan : mempertahankan BB ideal
KH : BB stabil
TTV dalam batas normal
Tidak terjadi oedema dan turgor kulit normal.
Intervensi :
a. Catat pengeluaran dan pemasukan cairan dalam tubuh.
R = untuk menentukan fungsi ginjal kebutuhan penggantian cairan dan menurunkan resiko kelebihan cairan.
b. Timbang BB tiap hari sebagai pengawasan status cairan.
R = penimbangan BB sebagai pengawasan status cairan.
c. Kaji kulit apa ada oedema pada bagian tubuh lain.
R = oedema terjadi pada jaringan yang tergantung pada tubuh.
3. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake yang tidak adekuat.
Tujuan : kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi
KH : BB normal
Tidak terjadi udem.
Intervensi :
a. Kaji / catat pemasukan diet
R = dapat digunakan sebagai dasar untuk evaluasi selanjutnya.
b. Kaji bising usus dan catat gerakan usus termasuk frekuensi, konsistensi
R = mendefinisikan masalah konstipasi, catatan : konstipasi adalah salah satu manifestasi termudah dari neurotoksisitas.
c. Pantau masukan dan keluaran serta BB
R = ketidakadekuatan masukan cairan dapat menimbulkan konstipasi.
d. Berikan obat suppositorial
R = membantu melancarkan BAB dan mencegah komplikasi lebih lanjut pada beberapa pasien dengan pola defakasi buruk sebelum pengobatan.
(Doengoes, 2000).



DAFTAR PUSTAKA

Arief Mansjoer, Irfan Wahyudi, Wiwiek Setiawulan, dkk. 1999. Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3. Penerbit Media Auesculapius FKUI.
Brunner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Madical Bedah. Jakarta : EGC.
Marylin E. Doengoes, 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta ; EGC.
Price, A. Sylvia. 1994. Pathofisiologi Konsep Klinis Proses Penyakit. Jakarta : EGC.
Mija Kim, dkk. 1995. Diagnosa Keperawatan. Alih Bahasa : Niluh Gede Yayasan Asih. Jakarta : EGC.
Purnawan Junaedi. 1997. Kapita Selekta Kedokteran. FKUI : Jakarta.
Potter, Perry. 2005. Fundamental Keperawatan. Jakarta : EGC.

Photobucket