Sabtu, 15 Januari 2011

Asuhan Keperawatan Fibroadenoma

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN FIBROADENOMA

A Latar Belakang
Penyakit fibroadenoma adalah penyakit wanita muda dengan frekuensi yang paling tinggi pada wanita yang berumur 20-25 tahun.Meskipun banyak gangguan payudara bersifat jinak, hampir 184.000 kasus baru kanker payudara diperkirakan didiagnosa pada tahun 1996. Penyakit jinak payudara sering terjadi pada wanita dan menimbulkan kekhawatiran yang sangat besar. Karena variasi dalam jaringan payudara yang terjadi selama siklus menstruasi, kehamilan, dan menopouse, maka perubahan normal harus dibedakan dari perubahan-perubahan yang menunjukkan penyakit.
(Brunner & Suddarth, 2001)

Payudara terdiri dari kumpulan kelenjar dan jaringan lemak yang terletak di antara kulit dan tulang dada. Kelenjar di dalam payudara akan menghasilkan susu setelah seorang perempuan melahirkan. Kelenjar-kelenjar susu disebut lobule yang membentuk lobe atau kantung penghasil susu. Terdapat 15 sampai 20 kantung penghasil susu pada setiap payudara, yang dihubungkan dengan saluran susu yang terkumpul di dalam puting. Sisa bagian dalam payudara terdiri dari jaringan lemak dan jaringan berserat yang saling berhubungan, yang mengikat payudara dan mempengaruhi bentuk dan ukuran. Terdapat juga pembuluh darah dan kelenjar getah bening pada payudara.
Tumor dibagi dalam dua golongan, yaitu tumor jinak dan tumor ganas. Kanker adalah istilah umum untuk semua jenis tumor ganas. Sel tumor pada tumor jinak bersifat tumbuh lambat, sehingga tumor jinak pada umumnya tidak cepat membesar. Sel kanker mendesak jaringan sehat sekitarnya secara serempak sehingga terbentuk simpai (serabut pembungkus yang memisahkan jaringan tumor dari jaringan sehat). Oleh karena bersimpai maka pada umumnya tumor jinak mudah dikeluarkan dengan cara operasi.
(Copyright © 2003, PT. Indosiar Visual Mandiri)

Teknik baru untuk operasi tumor jinak payudara dilakukan dengan teknik beku cryoablation (Visica Treatment System). Dengan teknik baru ini, selain tanpa perlu dibius umum (narkose), sayatan yang dibuat pun tak perlu lebar, cukup sekadar untuk memasukkan semacam instrumen jarum khusus yang ditusukkan mencapai lokasi tumornya. Sayatannya itu mungkin cuma 3 milimeter saja.
Sebelum ada teknik baru semacam itu, untuk operasi tumor jinak fibroadenoma (FAM) payudara selama ini dokter harus membelek kulit payudara cukup lebar sesuai dengan besarnya ukuran tumor. Dan oleh karena sayatan pada kulitnya cukup lebar, barang tentu pada bekas sayatan tersebut akan menyisakan bekas jahitan luka yang tak sedap dipandang. Lebih tak sedap kalau pasien berbakat keloid, sehingga bekas jahitan lukanya berbintil-bintil seperti tali rami.
(Copyright @ PT. Kompas Cyber Media, 2004)

B Tujuan
Makalah ini ditulis agar mahasiswa dapat :
1. Mengetahuin pengertian dari FAM (Fibroadenoma Matosa)
2. Mengetahui manifestasi dan patofisiologi dari FAM
3. Memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan FAM






BAB II
TINJAUAN TEORI

A Definisi
Fibroadenoma adalah benjolan padat yang kecil dan jinak pada payudara yang teridiri dari jaringan kelenjar dan fibrosa. Benjolan ini biasanya ditemukan pada wanita muda, seringkali ditemukan pada remaja putri.
(www.medicastore.com 2004)

Fibroadenoma adalah tumor jinak payudara yang keras, bulat, dan dapat digerakkan yang biasanya mengenai wanita pada usia akhir belasan atau akhir tigapuluhan.
(Brunner & Suddarth, 2001)

Tumor adalah untuk semua benjolan yang ada di payudara baik jinak maupun ganas. Sedangkan sebutan kanker payudara adalah tumor ganas pada payudara.
Jika dalam pemeriksaan dokter terdahulu dikatakan tumor jinak payudara, sedikit kemungkinan berubah bentuk menjadi kanker payudara dalam jangka waktu 6(enam) bulan. Selain itu untuk mendiagnosa kanker payudara ada tanda - tanda lain seperti: terbentuknya luka (ulcus), rasa nyeri yang hebat, keluar darah dari putting susu, luka pada permukaan payudara berkerut seperti kulit jeruk (pear d'orange).
(www.adihusada.com,2004)

B Etiologi
Penyebabnya tidak diketahui
Faktor predisposisi
Siklus menstruasi yang tidak teratur

Faktor resiko dari penyakit tumor payudara adalah
1. Nulliparitas
2. paritas yang rendah
3. Menopouse yang terlambat
4. Terapi estrogen

C Manifestasi Klinis
Benjolan mudah digerakkan, batasnya jelas dan bisa dirasakan pada SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri). Teraba kenyal karena mengandung kolagen (serat protein yan gkuat yang ditemukan di dalam tulang rawan, urat daging dan kulit).
(www.medicastore.com 2004)

Biasanya terjadi sebagai massa tunggal pada wanita yang berusia antara 15 sampai 35 tahun. Biasanya tidak terasa nyeri tekan, mungkin bulat / lobular, keras, dapat digerakkan, dan tidak terikat pada jaringan payudara atau dinding dada.
(Brunner & Suddarth, 2001)

Suatu tumor jinak tidak memberikan suatu keadaan yang berbahaya, mungkin hanya merasakan tanda - tanda tumor sedikit membesar, gejala nyeri seringkali juga timbul, akan tetapi biasanya mengikuti siklus menstruasinya.

(www.adihusada.com,2004)

D Komplikasi
Bila pengangkatan tumor tidak sempurna, maka sisa dari tumor akan menyebabkan terjadinya sistosarkoma Filoides.
(Sylvia A & Lorraine M, 1995)


E Patofisiologi
Samapai saat ini penyebab dari tumor jinak payudara belum diketahui (idiopatik). Namun, ada faktor predisposisi yang mendukung terjadinya tumor pada payudara adalah siklus menstruasi yang tidak teratur. Suatu teori menyatakan bahwa pada fase luteal dalam siklus menstruasi terjadi peningkatan kadar hormon estrogen dan penurunan kadar hormon progesteron. Sedangkan secara fisiologisnya pada saat menstruasi hormon estrogen dan progesteron meningkat dan dua hari sebelum menstruasi berakhir hormon estrogen dan progesteron menurun. Secara normalnya, fungsi estrogen untuk perkembangan jaringan stroma pada payudara, pertumbuhan sistem duktus yang luas, dan untuk deposit lemak pada payudara. Sedangkan progesteron berfungsi untuk peningkatan perkembanagn dari lobulus dan alveoli payudara, menyebabkan sel-sel alveolar berproliferasi, membesar dan bersifat sekretorik. Pembesaran jaringan payudara terjadi akibat meningkatnya kadar estrogen dan defisiensi kadar hormon progesteron dari ketidakteraturan siklus menstruasi. Sehingga terjadi peningkatan deposit lemak dan perkembangan jaringan payudara. Dan juga penurunan pembentukan lobulus dan alveoli. Apabila kejadian ini berlangsung secara terus-menerus dapat mengakibatkan tumor payudara.
(Guyten & Hall, 1997)
G. Pemeriksaan
Pemeriksaan yang dilakukan adalah
1. SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri)
a. Berdiri di depan cermin, perhatikan payudara. Dalam keadaan normal, ukuran payudara kiri dan kanan sedikit berbeda. Perhatikan perubahan perbedaan ukuran antara payudara kiri dan kanan dan perubahan pada puting susu (misalnya tertarik ke dalam) atau keluarnya cairan dari puting susu. Perhatikan apakah kulit pada puting susu berkerut.
b. Masih berdiri di depan cermin, kedua telapak tangan diletakkan di belakang kepala dan kedua tangan ditarik ke belakang. Dengan posisi seperti ini maka akan lebih mudah untuk menemukan perubahan kecil akibat kanker. Perhatikan perubahan bentuk dan kontur payudara, terutama pada payudara bagian bawah.
c. Kedua tangan di letakkan di pinggang dan badan agak condong ke arah cermin, tekan bahu dan sikut ke arah depan. Perhatikan perubahan ukuran dan kontur payudara.
d. Angkat lengan kiri. Dengan menggunakan 3 atau 4 jari tangan kanan, telusuri payudara kiri. Gerakkan jari-jari tangan secara memutar (membentuk lingkaran kecil) di sekeliling payudara, mulai dari tepi luar payudara lalu bergerak ke arah dalam sampai ke puting susu. Tekan secara perlahan, rasakan setiap benjolan atau massa di bawah kulit. Lakukan hal yang sama terhadap payudara kanan dengan cara mengangkat lengan kanan dan memeriksanya dengan tangan kiri. Perhatikan juga daerah antara kedua payudara dan ketiak.
e. Tekan puting susu secara perlahan dan perhatikan apakah keluar cairan dari puting susu. Lakukan hal ini secara bergantian pada payudara kiri dan kanan.
f. Berbaring terlentang dengan bantal yang diletakkan di bawah bahu kiri dan lengan kiri ditarik ke atas. Telusuri payudara kiri dengan menggunakan jari-jari tangan kanan. Dengan posisi seperti ini, payudara akan mendatar dan memudahkan pemeriksaan. Lakukan hal yang sama terhadap payudara kanan dengan meletakkan bantal di bawah bahu kanan dan mengangkat lengan kanan, dan penelusuran payudara dilakukan oleh jari-jari tangan kiri.
Pemeriksaan d dan e akan lebih mudah dilakukan ketika mandi karena dalam keadaan basah tangan lebih mudah digerakkan dan kulit lebih licin.
(www.medicastore.com 2004)

2. Mamografi
Mamografi adalah suatu pemeriksaan untuk mammae (payudara) dengan menggunakan sinar x-ray dosis rendah. Dipakai untuk mendeteksi dini tumor payudara pada wanita, tanpa disertai keluhan atau yang disertai keluhan. Keluhan seperti adanya benjolan pada payudara, cairan yang tidak normal keluar dari puting payudara atau adanya nyeri pada payudara (sebelum atau sesudah menstruasi - untuk menyingkirkan bahwa nyeri yang ditimbulkan bukan dikarenakan sindroma pre menstrual). Skrining mamografi biasanya direkomendasi untuk setiap wanita diatas 40 tahun atau dibawah usia 40 tahun jika mempunyai faktor resiko terkena kanker payudara.
a. Indikasi :
1. Skrining pada wanita yang mempunyai faktor resiko tinggi untuk mendapat kanker payudara (ada 10 faktor resiko, lihat pembahasan diatas)
2. Jika massa / benjolan yang teraba pada payudara tidak jelas.
3. Jika dokter meraba adanya benjolan pada kelenjar getah bening aksila (ketiak) dan supra klavikula (diatas tulang klavikula / leher) walaupun tidak disertai terabanya massa / benjolan pada payudara .
4. Untuk usia 40 - 50 tahun dilakukan 2 tahun sekali, sedangkan lebih dai 50 tahun dilakukan setahun sekali.


b. Pada waktu melakukan mamografi :
1. Jangan memakai deodorant pada ketiak, talk / bedak pada ketiak atau payudara dan sekitarnya. Karena dapat mengaburkan hasil pemeriksaan, berupa spots / bintik Kalsium
2. Beritahu semua keluhan / gejala yang dirasakan pada ahli yang melakukan mamografi
3. Tanyakan dengan jelas apa yang didapat dari hasil pemeriksaan mamografi
4. Jangan memakai perhiasan atau baju diatas pinggang, Pasien akan mengenakan pakaian khusus yang telah disediakan
c. Keuntungan Mamografi :
1. Pemeriksaan mamografi tergantung pada operator / ahli yang melakukan pemeriksaan. Apakah bisa mendeteksi tumor payudara yang kecil tergantung dari kemampuan operator. Idealnya yang melakukan pemeriksaan mamografi adalah dokter yang sebelumnya telah melakukan pemeriksaan terhadap payudara pasien sehingga hasilnya lebih akurat.
2. Jika pemeriksaan mamografi di lakukan oleh yang benar-benar ahli, maka mamografi dapat mendeteksi adanya jenis tumor ductal carcinoma in situ (DCIS) - jenis tumor yang paling tidak membahayakan , yang pada pemeriksaan fisik tidak akan bisa terdeteksi.
d. Kerugian Mamografi :
1. Tidak boleh dilakukan jika hamil
2. Banyak yang mengalami false positive, artinya pada pemeriksaan mamografi hasilnya positif (berarti pasien yang bersangkutan mengidap kanker), ternyata pada pemeriksaan lanjutan yaitu biopsi (pemeriksaan dengan mengambil sedikit jaringan tersangka kanker untuk diperiksa di Lab.Patologi Anatomi) hasilnya negatif (pasien yang bersangkutan tadi tidak mengidap kanker payudara). Biopsi ini adalah pemeriksaan invasif yang termasuk gold standard untuk pemeriksaan tumor payudara (dilakukan dengan jalan melakukan tindakan / operasi) Kejadian false positif (hasil mamografi positif kanker tapi ternyata pada akhirnya tidak terbukti ganas), pada usia 40 - 49 tahun sebesar 30 % , sedangkan diatas usia 50 tahun, sebanyak 25 % . (sumber : American College of Radiology)
3. Tidak semua kanker payudara dapat tervisualisasi dengan baik lewat pemeriksaan Mamografi
4. Pemeriksaan mamografi dilakukan dengan cara menekan payudara. Untuk sebagian pasien, penekanan payudara dirasa sesuatu yang tidak menyenangkan bahkan menyakitkan terutama bagi mereka yang sebelumnya mempunyai gejala nyeri pada payudara.
5. Hati-hati bagi pengguna payudara implant. Bagi wanita yang telah menjalani operasi implant payudara terbuat dari silikon atau salin, maka jaringan payudara yang abnormal bisa tidak terdeteksi kalau jaringan implant tadi di letakkan diatas / di permukaan jaringan payudara tersangka kanker. Bahkan dengan metode menekan payudara pada pemeriksaan mamografi ini dapat mengakibatkan ruptur / pecahnya implant payudara yang terbuat dari silikon atau salin. Sehingga bagi wanita pemakai implant, harap memberitahu sebelumnya kepada operator yang melakukan mamografi. Akhirnya, mengingat keterbatasan dari pemeriksaan mamografi ini maka tidak setiap wanita wajib melakukan mamografi.
(hhtp.Lakshminawasasi.blongspot.com.2006)






f. Prosedur :
Prosedur ini membutuhkan waktu sekitar 20 menit dan dapat dilakukan dibagian radiologi rumah sakit atau pada tempat-tempat praktek pencitraan swasta. Skining mamografi dikombinasikan dengan pemeriksaan fisik.
1. Dilakukan dua posisi pemotretan untuk tiap payudara, yaitu kraniokaudal dan mediolateral. Untuk posisi kraniokaudal dosisnya 0,05 rad (radiation absorption dose) dan untuk posisi mediolateral 0,06 rad.
2. Setiap payudara dimampat dan diratakan yaitu dengan menekan dari atas ke bawah dan dari sisi ke sisi oleh alatan tertentu apabila imej sinar-X diambil.
3. Pemotretan dengan sinar X sesuai dengan dosis radiasi mamografi yang dihitung adalah skin dose (dosis di permukaan kulit) seperti diatas.

3. Biopsi
Biopsi bedah biasanya dilakukan di unit rawat jalan dibawah anastesi lokal. Biopsi mencakup eksisi lesi dan mengirimkannya ke laboraturium untuk dilakukan pemeriksaan patologis.
Bila ukuran tumor tidak terlalu besar, maka semua benjolan diangkat dengan cara operasi yang dilakukan dalam pembiusan total, disebut biopsi eksisi. Bila tumor ukurannya besar, biasanya diambil sampel atau contoh yaitu dengan mengambil sebagian kecil saja dari benjolan yang ada, disebut biopsi insisi. Setelah dilakukan biopsi, jaringan tumor dikirim kepada seorang patolog, dan diperiksa , hasilnya berupa hasil pemeriksaan patologi anatomi (PA) . Hasil pemeriksaan PA ini biasanya membutuhkan waktu 4-7 hari.
Biopsi dilakukan untuk pemeriksaan histopatologik yang merupakan pemeriksaan jaringan. Kadang dilakukan pemeriksaan sitologi untuk menentukan diagnosis . Hasil pemeriksaan PA inilah yang menjadi golden standart atau diagnosis pasti apakah suatu benjolan itu jinak atau ganas (kanker).
Pada proses ganas terdapat penyusupan sel ganas ke jaringan sehat sekitarnya. Sedangkan pada proses jinak tidak terdapat penyusupan ke jaringan sehat sekitarnya.
Tindakan biopsi itu sendiri dapat merupakan tindakan pengobatan. Bila hasil PA jinak maka dengan pengangkatan tumor berarti pengobatan sudah selesai. Namun bila hasilnya adalah kanker , harus dilanjutkan oleh operasi kedua yaitu dengan tindakan bedah kuratif.
Bedah kuratif yang mungkin dilakukan ialah mastektomi radikal (pengangkatan payudara dengan sebagian besar kulitnya, m.pektoralis mayor dan minor, serta semua kelenjar ketiak sekaligus), bedah radikal yang diubah (m. Pektoralis mayor dan minor dipertahankan jika tumor mamae jelas bebas dari otot tersebut), dan bedah konservatif yang merupakan eksisi tumor luas. Biasanya badah konservatif selalu ditambah diseksi kelenjar aksila dan radioterapi pada (sisa) payudara tersebut. Ketiga tindakan tersebut merupakan satu paket terapi yang harus dilaksanakan serentak
(Copyright © 2002 Pontianak Post )
F Penatalaksanaan
Fibroadenoma seringkali berhenti tumbuh atau bahkan mengecil dengan sendirinya. Pada kasus seperti ini, tumor biasanya tidak diangkat. Jika fibroadenoma terus membesar, maka harus dibuang melalui pembedahan
1. Pembekuan Cryoablation
Teknik baru operasi tumor jinak payudara dilakukan dengan teknik beku cryoablation (Visica Treatment System). Dengan teknik baru ini, selain tanpa perlu dibius umum (narkose), sayatan yang dibuat pun tak perlu lebar, cukup sekadar untuk memasukkan semacam instrumen jarum khusus yang ditusukkan mencapai lokasi tumornya. Sayatannya itu mungkin cuma 3 milimeter saja.
Agar jarum yang dimasukkan ke dalam jaringan payudara lebih akurat mencapai sasaran tumornya, memasukkan arah jarumnya perlu dipandu dengan bantuan USG (Ultrasonography). Pada saat ujung jarumnya sudah menyentuh bagian tumornya, instrumen tersebut melakukan proses pembekuan (cryoablation) terhadap tumornya, sehingga jaringan tumornya menjadi hancur. Oleh karena yang berlangsung proses membekuan jaringan (freezing), tentu tak terasakan nyeri apa pun. Setelah jaringan tumornya hancur, instrumen kemudian dicabut, dan oleh karena sayatannya hanya minimal, bekas sayatan tak memerlukan jahitan sebagaimana lazimnya pembedahan umumnya, melainkan cukup diberi plester khusus untuk merapatkan kembali bekas luka sayat yang minimal itu. Proses operasi dengan teknik ini rata-rata menghabiskan waktu sekitar 30 menit saja.
Jaringan tumor yang sudah hancur oleh proses pembekuan dibiarkan tak dikeluarkan dari dalam payudara. Diharapkan dalam beberapa bulan kemudian sisa-sisa jaringan tumor yang hancur itu akan diserap sendiri oleh tubuh tanpa bersisa.
(Copyright @ PT. Kompas Cyber Media, 2004)


2. Teknik Pemanasaan (heating)
Teknik pemanasaan (heating) memakai alat ultrasound yang dipandu oleh MRI (Magnetic Resonance Imaging). Teknik ini dinamakan Magnetic Resonance guided Focus Ultrasound Therapy (RgFUS). Dengan teknik ini malah sama sekali tidak memerlukan sayatan pada payudara, namun perlu waktu operasi sampai 2-3 jam.
Dengan pemidaian MRI, selain untuk melihat di mana persis lokasi jaringan tumor payudaranya, juga untuk mengetahui apakah pada jaringan tumornya sudah berlangsung proses pemanasan yang dilakukan oleh efek ultrasound. Cara pemanasan ini yang akan menghancurkan jaringan tumornya. Sama halnya dengan teknik cryoablation, jaringan tumor yang sudah dihancurkan itu juga akan diserap sendiri oleh tubuh.
(Copyright @ PT. Kompas Cyber Media, 2004)



G Rencana Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian
Inspeksi
Pasien telanjang dari kepala sampai sebatas pinggang dan duduk dalam posisi yang nyaman menghadapi pemeriksa. Yang perlu diinspeksi adalah:
a. Payudara
Ukuran
Kesimetrisan
b. Kulit
Warna : eritema (kemerahan)
Pola venosa : menonjol
Edema : (-)
c. Puting susu : ulserasi, ruam, atau rabas puting susu dan adanya dimpling atau retraksi.
Palpasi
a. Seluruh payudara, dari parasternal ke arah garis aksila belakang, dan dari subklavikular ke arah paling distal.
b. Area aksilaris dan klavikularis

Hal-hal yang perlu diperhatikan :
Nodus limfe
Nodus sentral, lateral, subskapular, dan pektoralis
Konsistensi jaringan
Nyeri tekan
Adanya massa
(Brunner & Suddarth, 2001 & Wiknjosastro, 1999)




b. Diagnosa keperawatan
Sebelum penatalaksanaan
1. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang penyakit dan terapinya
2. Gangguan konsep diri ; harga diri rendah berhubungan dengan krisis situasi
Sesudah penatalaksanaan
1. Gangguan rasa nyaman ; Nyeri berhubungan dengan insisi pada daerah payudara
2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan interupsi mekanis pada kulit/jaringan
3. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan pemajanan terhadap mikro organisme.

Photobucket